Perlu atau Enggak?
Karena ini pertanyaan sakral, coba kita jelaskan dengan argumentasi-argumentasinya. Sesuatu yang "diperlukan" apabila "dibutuhkan", menurutku. Bahkan sesuatu yang "dibutuhkan" itu kadang tidak kita sadari. Matematika atau kemampuan numerikal pada umumnya diperlukan untuk hidup. Dan dalam pikiran saya, sesuatu dari Matematika yang diperlukan untuk life skill adalah Matematika dasar. Misalnya operasional bilangan (tambah, kurang, bagi, kali). Itu rumus dasar hidup. Jadi, untuk orang-orang di luar sana, hal ini sama sekali tidak boleh dihindari, mengingat kehidupan minim kita paling tidak bersentuhan dengan uang yang harus kita hitung. Tetapi untuk, katakanlah, Logaritma atau Liniear atau Absis, menurut aku justru tidak diperlukan untuk life skill. Sepantaran Aljabar memang cukup penting. Misalnya: ax+by=ax+by itu sendiri dan tidak bisa dioperasionalkan lagi. Kaitannya adalah misalnya: Kamu punya delapan ekor kuda. Esoknya datang lagi lima ekor kerbau. Berapa jumlah keduanya sekarang? Hal-hal seperti ini tidak bisa dijawab karena memiliki beda variabel. Pada kalimat pertama adalah kuda dan kedua adalah kerbau. Sehingga aljabar boleh memiliki nilai guna cukup tinggi. Beberapa hal dalam Matematika diperlukan semua orang, tetapi ada hal Matematika yang bisa ditinggalkan orang lain tetapi mungkin memiliki nilai guna bagi orang lain lagi.
Tak seorang pun berkata, "Ya, ini tiket bioskopmu. Harganya tiga kali X akar pangkat tiga dolar, dan X minus Y dikali tujuh sen. Terimakasih, stan popcorn di sebelah sana." - Jessie Drummond dalam novel Super What oleh Jax Abbott.
Kalau Begitu Kapan Dipakai?
Menurut saya, sitem pemilihan jurusan diterapkan pada anak-anak sejak SMP sehingga Matematika yang dia pilih betul-betul berguna di masa depannya. Matematika semacam Logaritma, menurut saya, hanya dipakai bagi orang yang akan bergulat di bidang Matematika. Sedangkan kalau kita jadi petani, katakanlah, kita tidak akan berkata, "Mungkin sebaiknya bidang yang kita tanami f(x)= 9x+2x dengan x adalah 10 hektar." Atau apa pun aplikasinya, bayangkan seberapa mubazirnya waktu kita untuk belajar macam itu jika tidak diterapkan di kemudian hari.
Bagaimana Jika Anak SMP Belum Bisa Memilih
Ada ketakutan begitu. Tetapi, jika Anda suka membaca kutipan-kutipan, atau katakanlah buku Chicken Soup for the Soul yang dijual ramai di Gramedia, Anda pasti dapat menemukan kutipan semacam, "Lebih baik dia memilih sejak awal dan salah, dan memiliki waktu untuk berubah. Daripada dia tidak tahu cara memilih dan bergantung pada orang dewasa tiap saat." Menyesal kan? Keep in mind bahwa anak SMP suatu saat akan jadi orang dewasa, dan anak-anaknya akan memilih, katakanlah, berdasarkan kebijakannya. Sementara, dia sendiri masih bergantung pada orangtuanya. Orangtua tidak akan mendampingi anak setiap saat. Oleh karena itu, apapun halnya, baik itu Matematika atau semua kegiatan lain, sebaiknya pilihan dan rasionalitas dinomor satu-kan.
Akhir kata, terimakasih banget sudah membaca blog ini. Keep in mind bahwa aku masih lima belas tahun dan masih cukup gelap dengan dunia semacam ini dan mencoba merabanya. Kebetulan, aku cinta menulis dan akademis, terutama esai dan opini. Jadi, aku akan mengasah skill sejak sekarang. Aku berjanji akan terus mengasah kemampuanku, agar tiap saat, postingku lebih berkembang. Cheers =)
No comments:
Post a Comment